Sabtu, 28 Juli 2012

Keterampilan Generik Sains Siswa (KGS)

Keterampilan  generik sains adalah  keterampilan yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai konsep dan menyelesaikan berbagai masalah sains. Dalam satu kegiatan ilmiah, misalnya kegiatan memahami konsep, terdiri dari beberapa kompetensi generik. Kegiatan-kegiatan ilmiah yang berbeda dapat mengendung kompetensi-kompetensi generik yang sama.  Ciri dari pembelajaran sains melalui keterampilan generik sains adalah membekalkan keterampilan generik sains kepada siswa sebagai pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Brotosiswoyo dalam Sunyono 2009 : 8). Menurut Liliasari dkk (2007) Keterampilan generik kimia adalah kemampuan berpikir dan bertindak berdasarkan pengetahuan kimia yang dimilikinya.
Menurut Brotosiswoyo (dalam Sunyono : 2009) kemampuan generik sains dalam pembelajaran IPA dapat dikategorikan menjadi 9 indikator yaitu: (1) pengamatan langsung (direct observation); (2) pengamatan tak langsung (indirect observation) (3) kesadaran tentang skala besaran (sense of scale); (4) bahasa simbolik (symbolic languange); (5) kerangka logika taat-asas (logical self-consistency) dari hukum alam; (6) inferensi logika; (7) hukum sebab akibat (causality); (8) pemodelan matematika (mathematical modeling); (9) membangun konsep (concept formation).
Berikut ini penjelasan dari setiap keterampilan generik sains tiap indikator:
1.        Pengamatan tak langsung
Pengamatan tak langsung adalah mengamati suatu objek dengan menggunakan alat bantu berupa media-media yang mendukung. Menurut Taufiq
(2009:25) Pengamatan tak langsung adalah pengamatan yang menggunakan alat bantu karena keterbatasan alat indera kita Dalam melakukan pengamatan langsung, alat indera yang digunakan manusia memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, untuk mengatasi keterbatasan tersebut manusia melengkapi diri dengan berbagai peralatan. Beberapa gejala alam lain juga terlalu berbahaya jika kontak langsung dengan tubuh manusia, seperti arus listrik, zat-zat kimia beracun,untuk mengenalnya diperlukan alat bantu seperti amperemeter, indikator dan lain-lain. Cara ini dikenal sebagai pengamatan tak langsung (Ikhsanudin, 2007:18)
2.        Pengamatan langsung
Pengamatan langsung adalah mengamati objek secara langsung dengan menggunakan alat indera. Alat indera tersebut berupa indera penglihatan, pendengaran, peraba, pengecap dan penciuman. Sebagai contoh, indera penglihatan ketika kita menimbang gula pasir pada timbangan. Pada indera peraba, saat kita mencelupkan tangan ke dalam air yang dingin kemudian masukkan kembali tangan dalam air lain yang lebih hangat, maka terasa perbedaan antara keduanya. Contoh indera pendengaran, misalnya ketika mendengar sirine mobil yang mendekat terdengar suara sirine akan semakin kuat. Contoh indera pengecap, saat kita membedakan rasa gula yang manis dan rasa garam yang asin. Contoh indera penciuman, misalnya saat kita naik gunung berapi yang masih aktif, di dekat kawahnya akan tercium bau belerang yang sangat kuat. Aspek pendidikan yang dapat muncul dari pengamatan adalah kesadaran akan batas-batas ketelitian yangdapat diwujudkan dan sikap jujur terhadap hasil pengamatan. Baik indera kita maupun alat bantu yang kita gunakan dalam pengamatan mengandung keterbatasan, dan itulah sebabnya kita mengenal teori ketidakpastian dalam pengukuran (Taufiq, 2009 : 25).
3.      Kesadaran tentang skala besaran
Kesadaran tentang skala besaran adalah suatu bentuk sikap dan pemikiran untuk mempelajari ukuran yang tak sesuai dengan ukuran benda yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti ukuran molekul protein, elektron dan waktu paruh (Liliasari, 2007).
4.      Bahasa simbolik
Bahasa simbolik adalah bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan perilaku alam yang tidak bisa dijelaskan oleh bahasa sehari-hari (Kaniawati, 2009:5-6). Dalam kimia misalnya termodinamika yang hanya bisa dijelaskan dengan persamaan dalam mengungkapkan kebenaran suatu fenomena.
5.      Kerangka logika taat azas
Kerangka logika taat azas adalah suatu pemikiran yang muncul karena adanya keganjilan tentang beberapa hukum yang menjelaskan suatu gejala alam yang sama (Liliasari, 2007). Contoh kerangka logika taat azas adalah ditemukannya teori relativitas Einsten yang menghubungkan keganjilan hukum mekanika Newton dengan  hukum elektrodinamika Maxwell.
6.      Inferensi logika
Inferensi logika adalah suatu penarikan kesimpulan logika berdasarkan apa yang telah didapat dari informasi yang mereka peroleh (Wikipedia, 2012).
7.      Hukum sebab akibat
Hukum sebab-akibat adalah suatu aturan yang muncul karena adanya suatu perilaku atau tindakan yang telah dilakukan. Contoh hukum sebab akibat dalam kimia misalnya apabila konsentrasi pereaksi diperbesar, maka reaksi berlangsung lebih cepat (Liliasari, 2007). Pada suatu kesetimbangan kimia akan terjadi pergeseran kesetimbangan apabila diberikan reaksi terhadap kesetimbangan tersebut. Misalnya kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dengan arah penambahan zat, suatu reaksi eksoterm akan berlangsung baik apabila suhu sistem diturunkan. Penjelasan dari gejala ini dapat dijawab berdasarkan hukum sebab-akibat.
8.      Pemodelan matematik
Pemodelan matematik adalah suatu rumus yang melukiskan hukum-hukum tentang gejala alam baik itu kuantitatif maupun kualitatif yang ungkapannya menggunakan bahasa matematik (Kaniawati, 2009:6).
9.      Membangun konsep
Membangun konsep adalah mengembangkan lebih lanjut ide dari suatu objek atau proses untuk memahami suatu gejala alam yang tidak bisa dipahami dengan bahasa sehari-hari. (Liliasari, 2007).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar anda membantu memperbaiki kualitas blog ini.
thanks